Sabtu, 24 Agustus 2013

first love maybe ?

Wajahnya tidak lagi jelas di ingatanku. Aku tidak mengalami amnesia, hanya karena tak bertemu hampir 13 tahun dengannya. Dia, sahabat kecil ku. Sahabat yang selalu bermain ayunan denganku. Sahabat yang hampir membuat ku tiada. Karena kejadian pahit di taman itu.

Aku masih ingat kejadian itu. Namun sangat sulit untuk mengingat wajah pelakunya. Aku masih ingat masa-masa di mana kami hampir menghabiskan waktu bersama ditaman itu. Taman yang rutin kami kunjungi.

Selain taman itu kami sering mengunjungi kebun Pak Tong, pemilik kebun mangga yang lumayan galak. Kami berdua sering membantunya memanen, lalu dia akan memberi kami beberapa buahnya. Walaupun resikonya, kami pasti kena marah.

Menyebrangi sungai yang entah seberapa dalam nya sungai itu, seberapa deras air sungai nya mengalir. Dia tetap memegang tangan ku erat. Seolah tak ingin dia lepas.

Tertawa bersama ketika dia sering membonceng ku untuk naik sepedanya. Waktu itu dialah yang paling cepat bisa membawa sepeda tanpa roda. Lalu menyuruh ku untuk memegang pundak nya dan berdiri diantara ban belakangnya. Walaupun pada akhirnya, kami pasti jatuh bersama-sama.

Pagi itu. Ketika umurku 5 tahun. Aku dan keluarga ku bersiap untuk meninggalkan kota itu. Dia, aku tak melihatnya. Walaupun ku tahu, dia sering membantu ibunya berbelanja. Tapi ini kan minggu pagi? Ia tak ada jadwal untuk ke pasar setiap minggu pagi. Dan minggu pagi biasanya kami sudah berada di taman. Duduk di ayunan.

Aku bergegas, berlari kearah taman itu. Mencarinya sebelum aku dan keluargaku benar-benar siap untuk berangkat.
Aku tak menemukannya. Dan aku pun masih menggenggam benda kecil itu ditangan ku. Niatnya, aku ingin memberinya bros, sebagai hadiah karna dia sudah menjadi temanku. Teman baik ku.

Aku menunggu nya lama. Sangat lama. Sebelum akhirnya ibu datang menghampiriku.
“Apa yang kamu lakukan? Ayo pulang. Kita segera berangkat” ucap Ibu sambil menggandeng tangan ku. “Ibu duluan saja. Aku akan segera menyusul” ucap ku sambil memohon sambil melepaskan tangan nya. Dan ibu menjawab dengan senyumnya.

Aku menaruh nya di atas ayunan itu. Berharap dia akan menemukan benda kecil itu dan menyimpannya. Berharap dia tahu, itu benda kesayangaan ku, dan sekarang sudah menjadi miliknya. Karena aku yakin, aku dapat mengenal nya, hanya dari bros itu.


Disini aku merindukan mu. Ku harap kita dapat bertemu. Secepatnya.

1 komentar: